Senin, 05 Juni 2017

INILAH Nasehat Felix Siauw untuk Afi Nihaya

Masalah tulisan Afi Nihaya tentang agama warisan masih hangat di media sosial, apalagi semenjak tersebar kabar bahwa sumber tulisannya tidak otentik.
Namun, tulisan berikut tidak akan membahas tentang otentik atau tidaknya tulisan Afi, tapi lebih kepada nasehat dan pelurusan terkait cara pandang terhadap Islam yang banyak dianggap oleh segelintir orang sebagai sebuah warisan.
Oleh : Ustadz Felix Siauw
Warisan itu tidak dapat kita pilih, karena ia datang kepada kita tanpa usaha, tanpa susah, tanpa upaya. Karenanya sikap kita terhadap warisan itu hanya disyukuri saja
Warisan itu diturunkan, dan termasuk warisan adalah warna kulit, bentuk tubuh, ras, etnis, atau bisa pula harta dari orangtua, segala sesuatu yang tak kita bisa pilih
Dan dalam Islam, Allah tidak pernah akan menghisab soalan yang tak pernah manusia pilih. Lahir dimana, etnis apa, ras apa, jenis kelaminnya, semua tak akan dihisab
Karena Allah saja tak menghisab perkara-perkara semisal itu, maka manusia pun tidak boleh memasalahkannya. Tidak boleh membedakan atas dasar semua itu
Maka salah dalam pandangan Islam, jika kita memasalahkan etnis, ras dan jenis kelamin, atau bahkan melihat seseorang dari tempat lahirnya, dari keturunannya
Mengapa? Sebab semua itu tidak bisa kita pilih, bagaimana mungkin kita dimintai pertanggungjawaban atas apa yang tidak pernah kita pilih pada awalnya?
Berbeda dengan apa yang kita pilih, usahakan dan upayakan untuk didapatkan. Maka semua itu akan dimintai pertanggungan dan akan dihisab kelak dihadapan Allah
Termasuk bagian ini adalah, berbuat amal salih atau amal salah, mendapat harta dari yang halal atau yang haram, juga tentu memilih beriman ataukah kafir, semua itu pilihan
Seseorang yang lahir dari orangtua yang Muslim, itu warisan yang harus disyukuri, tapi memilih Islam itu harus diusahakan, harus diupayakan, maka akan dihisab
Saya misalnya, lahir di keluarga yang bukan Muslim, hanya saja dakwah sampai kepada saya, lantas saya menggunakan akal untuk meraih hidayah Allah, menerima Islam
Lahir dari keluarga Muslim itu warisan, dan tak lantas menjadikan anda sebagai Muslim, sebab Islam itu pilihan bukan paksaan, didapatkan dengan usaha bukan warisan
Dan bagi mereka yang menyadari bahwa Islam itu pilihan yang tepat, sangat wajar baginya mencintai, memperjuangkan, dan membelanya dengan apapun yang dimiliki
Itulah beda agama Islam dengan kepercayaan lainnya, Islam mewajibkan seseorang yang sudah baligh dan berakal agar menemukan Islam, agar imannya bukan iman warisan
Sumber: fb Felix Siauw

Kamis, 02 Februari 2017

Naudzubillah, Kisah Gadis Mesir yang Memesan Tempat di Neraka

Baca dan hayati sepenuhnya cerita di bawah ini yang benar – benar terjadi di bumi islam sendiri yaitu Iskandariah , Mesir. Moga kisah yang cukup menyayat hati ini akan menyadarkan kita semua dari terus leka dengan permainan dunia yang melalaikan.
Pada suatu hari , seorang gadis yang terpengaruh dengan cara hidup masyarakat Barat menaiki sebuah minibus untuk menuju ke tujuan di wilayah Iskandariah . Sayangnya meskipun tinggal di bumi yang terkenal dengan tradisi keislaman , pakaian gadis tersebut sangat mencolok . Bajunya agak tipis dan seksi hampir terlihat segala yang patut disembunyikan bagi seorang perempuan dari pandangan pria atau mahramnya .
Gadis itu dalam lingkungan 20 tahun . Di dalam bus itu , ada seorang tua yang dipenuhi uban menegurnya : ” Wahai pemudi ! Alangkah baiknya jika kamu berpakaian yang baik , yang sesuai dengan ketimuran dan adat serta agama Islam kamu , itu lebih baik dari kamu berpakaian begini yang pastinya menjadi korban pandangan liar kaum pria …. ” Nasihat orang tua itu .
Namun, saran yang sangat bertetapan dengan tuntutan agama itu dijawab oleh gadis itu dengan jawaban yang mengejek : ” Siapalah kamu hai orang tua ? Apakah kamu mencoba meingatkan aku supaya menutup aurat sepenuhnya sedangkan tua kandungku sendiri tidak pernah menasihatiku ? Apakah kamu ingin aku berpakaian menutup aurat sedangkan aku masih ingin bebas menayangkan tubuh ku di depan umum ? Apakah di tangan kamu ada  kunci syurga ? Atau apakah kamu memiliki semacam kekuatan yang menentukan aku bakal berada di surga atau neraka ?
“Setelah menghamburkan kata – kata yang sangat menghiris perasaan orang tua itu , gadis itu tertawa mengejek panjang . Tidak cukup hanya itu , si gadis lantas mencoba memberikan ponselnya kepada orang tua tadi sambil melafazkan kata – kata yang lebih dahsyat . ” Jika ISLAM itu BENAR , tempatkan rumahku di Neraka , juga handphone ku ini dan hubungilah Allah serta tolong tempatkan sebuah kamar di neraka jahanam untukku , ” katanya lagi lantas tertawa meledek tanpa mengetahui bahwa dia sedang mempertikaikan hukum Allah dengan begitu biadab .
Orang tua tersebut sangat terkejut mendengar jawaban dari si gadis manis . Sayang sekali , wajahnya yang ayu tidak sama dengan perilakunya yang buruk . Penumpang – penumpang yang lain turut terdiam bahkan ada yang menggelengkan kepala kebingungan . Semua yang di dalam bus tidak menghiraukan gadis muda yang tidak menghormati hukum – hukum agama itu dan mereka tidak ingin menasehatinya karena khawatir dia akan akan menghina agama dengan lebih parah lagi .
Sepuluh menit kemudian bus pun tiba di halte . Gadis seksi bermulut sengit tersebut tertidur di depan pintu bus . Puas sopir bus termasuk para penumpang yang lain mengejutkannya tapi gadis tersebut tidak sadarkan diri . Tiba tiba orang tua tadi memeriksa nadi si gadis . Sedetik kemudian dia menggeleng . Gadis itu telah kembali menemui Tuhannya dalam keadaan yang tidak disangka .
Para penumpang menjadi cemas dengan berita yang menggemparkan itu . Dalam suasana kelam kabut itu , tiba tiba tubuh gadis itu terjatuh ke pinggir jalan. Orang banyak segera berkejar untuk menyelamatkan jenazah tersebut . Tapi sekali lagi mereka terkejut . Sesuatu yang aneh menimpa jenazah yang terbujur kaku di jalan raya . Mayatnya menjadi hitam seolah – olah dibakar api . Dua tiga orang yang mencoba mengangkat mayat tersebut juga keheranan karena tangan mereka terasa panas dan hampir terbakar sebaik saja menyentuh tubuh si mayat . Akhirnya mereka memanggil pihak keamanan menyiapkan mayat itu .
Begitulah kisah ngeri lagi memilukan yang menimpa gadis malang tersebut .  Apakah hasratnya memesan sebuah kamar di neraka dimakbulkan Allah ? Na’uzubillah , sesungguhnya Allah itu Maha Berkuasa di atas segala sesuatu . Sangat baik kita jadikan iktibar dan pelajaran dengan kisah benar ini sebagai Muslim sejati. Jangan sesekali kita mempertikaikan hukum Allah maupun sunnah Rasul – Nya saw dengan degradasi atau mengejek. Kata kata seperti ajaran Islam tidak sesuai lagi dengan arus modernitas dunia hari ini atau sembahyang tidak akan buat kita jadi kaya dan sejenisnya adalah kata – kata yang sangat kasar dan menghina Allah , pencipta seluruh alam .
Ingatlah teman , kita bisa melupakan kematian , tetapi kematian tetap akan terjadi kepada kita . Hanya waktunya saja yang akan menentukan kapan kita akan kembali ke alam barzakh . Janganlah menjadi orang yang bodoh , siapakah orang yang bodoh itu ? Mereka itulah orang yang ingin melawan Tuhan Rabbil ‘alamin . Bila Anda enggan melaksanakan perintah Tuhan berarti Anda ingin melawan perintah Tuhan .
Sewaktu di sekolah anda tunduk dengan hukum sekolah , dalam pekerjaan anda tunduk dengan hukum yang digambar oleh majikan anda , di dalam negeri anda tunduk di bawah hukum negara Anda . Begitu terobsesi sekali anda terhadap hukum itu sehingga terlalu prihatin takut kalau melanggar hukum tersebut . Bila anda berpijak di bumi ini , anda juga tunduk dengan hukum yang  telah di gubal oleh yang pemilik yang membuat bumi ini . Sama samalah kita memohon agar Allah selalu memberi kita petunjuk di atas jalan yang benar dan agar Dia memberikan kekuatan agar kita selalu dapat menjaga lidah kita , amin . Kisah ini dibagi dan diceritakan bersama oleh sahabat saya sendiri yang berasal di Malaysia dan kini berada di perantauan sana. [ ]

Inilah Solusi bagi Wanita Haidh Supaya Bisa Membaca Al Quran

Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang baik untuk membaca Al Quran. Namun setiap wanita pasti tidak penuh menjalankan puasa. Ada satu waktu ia mengalami haidh. Ketika mengalami haidh tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Al Quran sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Al Quran sebulan Ramadhan.
Berikut ada solusi yang baik untuk para wanita ketika menghadapi masalah ini.
1- Membaca mushaf saat haidh namun tidak menyentuh secara langsung
Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats. Yang tidak dibolehkan adalah menyentuh langsung saat berhadats.
Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuhnya adalah ayat,
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haidh dan nifas termasuk dalam hadats besar.
Jika dilarang menyentuh Al Quran dalam keadaan haidh, lalu bagaimana dengan membaca?
Solusinya dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di mana beliau berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)
Adapun hadits yang menyebutkan,
لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن
Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits.”
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadits di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 191)
2- Membaca Al Quran terjemahan
Kalau di atas disebut mushaf berarti seluruhnya berisi ayat Al Quran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Al Quran terjemahan, itu tidak termasuk mushaf.
Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan, “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Al Qur’an sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu tidak mengapa disentuh karena tidak disebut mushaf.”
Jika yang disentuh adalah Al Qur’an terjemahan dalam bahasa non Arab, maka itu tidak disebut mushaf yang disyaratkan dalam hadits mesti menyentuhnya dalam keadaan suci. Namun kitab atau buku seperti itu disebut tafsir sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu tidak mengapa menyentuh Al Qur’an terjemahan seperti itu karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Al Qur’annya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Disusun di Pesantren Darush Sholihin, selepas Maghrib 3 Ramadhan 1435 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : muslimah.or.id

Kisah Mengharukan Seorang Muslimah Yang Telat Menikah

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka’bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”.

(An Nisa’: 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.

(Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.
Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun.
Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang.
Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga.
Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya.
Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah.
Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya:

“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Bila status ini ada manfaatnya silahkan di-share.

Jazaakumullahu khairan

By : Cirebon Tanpa Pacaran

Jumat, 30 Desember 2016

Jangan Anggap Enteng Muslimah, Kalau Mereka Sudah Dakwah, KELAR IDUP LO!

Akhwatsiana - Tak dipungkiri, perubahan pola komunikasi pasti berakibat pada perubahan lanskap dakwah, dakwahnya tidak berubah, tapi wasilah “media” dakwahnya memang berubah.
Yang paling kentara adalah munculnya handphone, yang membuat pesan bisa diberikan dengan mudah, dilanjutkan dengan media sosial, yang buat komunikasi jadi lebih setara.
Interaksi yang tak mungkin menjadi mungkin dengan media sosial, tokoh publik terpapar dengan fansnya via sosial media, begitu juga dengan ide-ide, bisa diakses dengan bebas.
Dulu belum dimungkinkan memberikan edukasi secara massal kecuali via ceramah, koran, radio atau TV. Tapi dengan hadirnya media sosial, semua menjadi mungkin.
Dulu media mainstream seperti koran dan TV yang mendikte opini publik, namun sekarang sebaliknya, publik yang menentukan TV mana, koran mana yang layak dipercaya.
Begitu juga aksi #BelaQuran yang keberhasilannya tak terlepas dari media sosial, perasaan terluka kaum Muslim begitu masif di media sosial, hingga berujung pada satu gerakan.
Media-media pendukung penguasa dan penista Al-Quran terus-menerus berusaha membendung dan mendiskreditkan aksi #BelaQuran, tapi semua tak menemui hasil.
Jutaan massa tumpah ruah, sebab seruan-seruan di sosial media menggerakkan mereka, buzzer-buzzer tanpa ruh tak dapat membungkam gerakan #BelaQuran nan herois.
Siapa yang sangat berpengaruh dalam dunia sosial media saat ini? Jawabnya adalah MUSLIMAH. Berbagai studi dan survei setidaknya sudah mengonfirmasi hal ini, MUSLIMAH EFFECT.
Sebab Muslimah adalah getok tular yang luar biasa, beda dengan lelaki yang menyimpan sendiri apa yang mereka suka, Muslimah berbagi dengan yang lain, jadikan viral.
Mereka tak hanya jadikan ide kebaikan jadi viral, mereka jadi bagian dari ide itu, mengadvokasinya, membelanya, menjadi duta-duta kebaikan itu sendiri, That’s the girls power.
Tidak hanya dominasi jumlah di sosial media, Muslimah juga mendominasi ide apa yang layak diangkat, dan mempengaruhi lelaki yang jumlahnya juga tak sedikit.
Jadi, ini sanjungan pada para Muslimah, sekaligus permohonan, jangan berhenti men-share konten positif tentang Islam, karena di jarimu sekarang opini Islam berada.
Mungkin dulu dakwah ini didominasi lelaki, but this is your time, Dukung terus dakwah di negeri kita ini, dengan terlibat aktif dalam dakwah di sosial media.
Terus tambah tsaqafah Islammu, kita perlu banyak Muslimah jenius yang mendidik generasi yang jadi harapan kebangkitan ummat. #YukNgaji, itu amanah ummat bagimu.
Jangan anggap enteng Muslimah, kalau mereka sudah dakwah, KELAR IDUP LO!
Ustadz Felix Siauw
(fauziya/muslimahzone.com)

baca juga 

INILAH Asal Mula Meniup Terompet Tahun Baru? Masihkah Dilakukan Jika Tahu